Dialog Aspirasi Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi

Surabaya, 29 Agustus 2024 – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Akuntansi (HIMADIKSI) menggelar Program Kerja (Proker) Dialog Aspirasi sebagai bentuk respons atas keluhan dan masukan dari mahasiswa. Dialog ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi terkait proses belajar-mengajar, fasilitas, dan berbagai aspek lainnya kepada dosen secara langsung. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/08/2024) ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa serta beberapa dosen dari program studi Pendidikan Akuntansi.
Berawal dari berbagai keluhan yang disuarakan oleh mahasiswa di kelas, HIMADIKSI merasa perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan masalah yang mereka hadapi. Difa, salah satu narasumber yang terlibat dalam acara ini, menjelaskan tujuan dari proker tersebut. “Yaa karena dengan adanya banyak keluhan dari mahasiswa-mahasiswa prodi Pendidikan Akuntansi ini maka himpunan mahasiswa mengadakan sebuah proker yang bertujuan nantinya akan menampung aspirasi-aspirasi dari mahasiswa tersebut, dan dipastikan atau diupayakan untuk mendapatkan solusi dari permasalahan tersebut," ujarnya.
Selain menjadi ajang penyampaian keluhan, Dialog Aspirasi
ini juga digunakan sebagai kesempatan untuk memperkenalkan visi, misi, dan
berbagai prestasi yang telah diraih oleh Program Studi Pendidikan Akuntansi.
“Jadi mahasiswa tidak hanya mengkomplain, tetapi juga mengetahui
prestasi-prestasi yang telah diukir oleh prodi Pendidikan Akuntansi,” tambah
Difa.
Aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswa
mencakup berbagai aspek yang dianggap penting untuk menunjang kenyamanan dan
efektivitas proses pembelajaran. Salah satu poin utama yang diangkat adalah
masalah kualitas fasilitas di dalam kelas, terutama proyektor LCD yang sering
kali tampilannya kurang jelas. Masalah ini menghambat mahasiswa, terutama
mereka yang memiliki masalah penglihatan, dalam mengikuti materi yang
ditampilkan melalui proyektor.
Selain itu, beberapa mahasiswa merasa bahwa
penyampaian materi oleh dosen terlalu cepat, sehingga mereka kesulitan mencatat
dengan lengkap. Keluhan lain juga muncul terkait perhatian dosen selama
presentasi mahasiswa di kelas, di mana mahasiswa merasa kurang mendapat
perhatian meski sudah berusaha menyampaikan materi secara maksimal.
Rafif, salah satu mahasiswa yang hadir, menyarankan solusi terkait permasalahan ini. “Untuk aspirasi tentang pembelajaran di kelas sudah terjawab, yaitu solusinya mendekati dosen atau SKSD lah ya, supaya dosennya juga lebih mengenal kita lebih jauh lagi,” katanya.
Di sisi lain, keluhan tentang fasilitas
seperti proyektor tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab program studi. Elen,
salah satu mahasiswi yang juga turut menyuarakan aspirasinya, mengungkapkan
bahwa dosen mengarahkan mahasiswa untuk menyampaikan masalah sarana dan
prasarana kepada pihak universitas. “Terkait sarana dan prasarana bukan
tanggung jawab prodi, melainkan tanggung jawab universitas,” jelas Elen.
Meski demikian, dosen-dosen di Program
Studi Pendidikan Akuntansi tetap berkomitmen untuk menampung aspirasi yang
berkaitan langsung dengan pembelajaran dan memberikan solusi terbaik bagi
mahasiswa.
Dialog Aspirasi ini
diharapkan bisa menjadi forum rutin yang tidak hanya menampung keluhan, tetapi
juga membangun komunikasi yang lebih baik antara mahasiswa dan dosen. Dengan
adanya program seperti ini, mahasiswa bisa lebih terlibat dalam menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif dan produktif, sementara dosen dapat lebih
memahami kebutuhan mahasiswa dalam proses belajar-mengajar.