Ancaman Online Gaming Disorder: Kemenkes Ajak Orang Tua Awasi Anak
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahaya online gaming disorder. Gangguan ini masuk dalam daftar penyakit Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ancaman online gaming disorder serius, terutama bagi anak-anak dan remaja. Kemenkes mengajak orang tua untuk lebih aktif mengawasi anak-anak. Pengawasan ini penting untuk mencegah dampak negatif pada kesehatan mental dan fisik.
Pendidikan Akuntansi juga menyadari isu ini. Mahasiswa didorong memahami literasi digital. Pemahaman ini membantu mereka mengelola waktu secara produktif.
Mengenali Gejala dan Dampak Negatif
Kecanduan game online menunjukkan beberapa gejala. Anak-anak menjadi mudah marah dan menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka juga mengalami penurunan prestasi akademik. Kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi belajar. Mereka kesulitan fokus pada tugas-tugas di sekolah.
Dampak fisik juga terlihat. Anak-anak bisa mengalami kurang tidur dan pola makan tidak teratur. Kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Akuntan muda perlu memiliki mental yang sehat. Mereka harus mampu bekerja secara fokus dan teliti.
Peran Orang Tua dan Literasi Digital
Kemenkes mengimbau orang tua membatasi waktu bermain game. Orang tua harus membuat kesepakatan jelas. Mereka perlu mengalihkan perhatian anak-anak ke kegiatan lain. Olahraga dan membaca buku adalah contoh kegiatan positif. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak juga sangat penting.
Program Studi Pendidikan Akuntansi mengajarkan manajemen waktu. Ini berguna dalam berbagai aspek kehidupan. Mahasiswa diajari mengelola waktu antara akademik dan aktivitas lainnya. Pendekatan ini relevan untuk menghadapi tantangan digital saat ini.
Kolaborasi untuk Masa Depan yang Sehat
Ancaman online gaming disorder membutuhkan respons kolektif. Sekolah, keluarga, dan pemerintah harus bekerja sama. Mereka harus menciptakan lingkungan digital yang aman. Kemenkes terus memberikan edukasi kepada masyarakat.