Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Meningkat pada 2024, Diperkirakan Lebih Lebar pada 2025
Laporan Bank Indonesia menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia meningkat pada 2024, diperkirakan lebih lebar pada 2025. Pada 2024, defisit tercatat sebesar USD 8,9 miliar atau 0,6% dari PDB. Proyeksi tahun 2025 menyebutkan kisaran 0,5% hingga 1,3% dari PDB.
Kondisi ini menjadi isu penting dalam pendidikan ekonomi, khususnya di program studi Pendidikan Akuntansi. Mahasiswa perlu memahami mekanisme neraca pembayaran dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Penyebab dan Konteks Ekonomi Global
Peningkatan defisit ini dipengaruhi oleh melemahnya ekspor dan meningkatnya impor barang konsumsi. Selain itu, ketidakpastian global membuat arus investasi menjadi tidak stabil.
Akuntansi makro harus mengakomodasi pemahaman atas neraca transaksi berjalan. Mahasiswa akuntansi wajib memahami relasi antara transaksi luar negeri dan penyusunan laporan keuangan nasional.
Implikasi terhadap Pendidikan Akuntansi
Situasi ini memperkuat urgensi pembelajaran mata kuliah Akuntansi Internasional dan Ekonomi Makro. Dosen dapat mengintegrasikan data dari Bank Indonesia dan IMF sebagai studi kasus dalam pembelajaran.
Lihat struktur kurikulum Pendidikan Akuntansi untuk memahami bagaimana isu-isu seperti ini diterapkan dalam pengajaran. Keterampilan analisis makro sangat dibutuhkan dalam praktik akuntansi publik dan sektor keuangan.
Peran Mahasiswa dalam Menanggapi Defisit
Mahasiswa perlu dilibatkan dalam diskusi akademik terkait kondisi ini. Pengolahan data makroekonomi dan interpretasi statistik menjadi penting untuk penelitian ilmiah.