Kegiatan Keagamaan Sekolah Dinilai Mampu Tekan Kasus Perundungan di Program Studi Pendidikan Akuntansi
Implementasi kegiatan keagamaan secara rutin dapat memperkuat karakter siswa, mendorong empati, dan mengurangi perilaku negatif yang berdampak buruk pada suasana belajar.
Peran Kegiatan Keagamaan Sekolah Tekan Kasus Perundungan
Kegiatan keagamaan sekolah dinilai mampu tekan kasus perundungan melalui pembiasaan nilai-nilai toleransi, kedisiplinan, dan kepedulian. Program seperti shalat berjamaah, pengajian, serta diskusi reflektif agama terbukti meningkatkan disiplin siswa dari 72% menjadi 84% dan empati dari 70% menjadi 80% di beberapa sekolah. Hal ini menumbuhkan lingkungan belajar yang inklusif, mencegah perilaku intimidasi, dan menguatkan solidaritas siswa.
Implementasi program keagamaan yang konsisten didukung oleh guru dan organisasi sekolah. Selain itu, pembentukan duta anti-bullying berbasis nilai religius membantu menanamkan perilaku positif dan membuat siswa lebih respek terhadap sesama. Guru agama serta konselor berperan aktif dalam memberikan bimbingan, membekali siswa dengan pemahaman bahwa perilaku bullying bertentangan dengan ajaran keagamaan dan akan membawa dampak negatif pada kehidupan sosial mereka.
Praktik Pendidikan Akuntansi Integrasikan Kegiatan Keagamaan
Pada program studi Pendidikan Akuntansi, integrasi kegiatan keagamaan mendukung pembentukan lulusan berkarakter Islami, adaptif, dan profesional. Melalui pembelajaran nilai kejujuran, etika, dan kolaborasi, program studi ini berupaya menghasilkan calon pendidik dan profesional keuangan yang berjiwa sosial tinggi dan bebas dari perilaku perundungan. Fakultas juga mendorong partisipasi aktif mahasiswa pada kegiatan keagamaan, seminar etika profesi, dan pengabdian masyarakat berbasis nilai religius.
Kegiatan keagamaan dan etika profesi yang dikondisikan dalam kurikulum Pendidikan Akuntansi tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga dengan nilai kehidupan yang penting dalam dunia kerja.
Dampak Kegiatan Keagamaan Terhadap Penurunan Perundungan
Data survei di beberapa sekolah yang aktif menyelenggarakan program keagamaan menunjukkan penurunan signifikan pada kasus perundungan selama tiga tahun terakhir. Di madrasah dengan program “Anti-Perundungan”, jumlah kasus bullying turun dari 44 menjadi 17 dalam tiga tahun. Hasil ini menegaskan pentingnya kolaborasi sekolah, keluarga, dan komunitas dalam memperkuat pendidikan karakter melalui kegiatan keagamaan.
Dengan demikian, kegiatan keagamaan sekolah dinilai mampu tekan kasus perundungan di berbagai jenjang pendidikan, termasuk program studi Pendidikan Akuntansi. Langkah ini diharapkan terus berkembang dan menjadi fondasi pembentukan karakter siswa masa depan.