Kuliah Tamu ESQ Pendidikan Akuntansi

Mahasiswa sebagai anak bangsa, dituntut untuk selalu berkarya inovatif, produktif, serta berkreativitas dalam menyikapi setiap perubahan yang terjadi. Acapkali kemampuan soft skill mahasiswa rendah karena pada umumnya pendidikan yang diberikan di ruang kuliah lebih difokuskan kepada kemampuan analisis (hardskill), sedangkan pendidikan yang lebih bersifat kemampuan interaksi social (softskill) dan pendidikan kepribadian dilakukan pada waktu dan kesempatan tersendiri.
Sebagai salah satu unsur insan akademis, sumbangan fikiran mahasiswa akan selalu menjadi harapan masyarakat, untuk itulah maka pelatihan softskill yang merupakan perpaduan dari Managerial Skill, Adaptation Skill, Entrepreneur Skill, Spiritual Skill, Teamwork Skill, Research Skill dan Organizational Skill, perlu dilaksanakan. Kegiatan tersebut berupa workshop kepemimpinan tingkat dasar, menengah dan lanjutan, ESQ dan pembinaan etika, Workshop Jurnalistik, pelatihan komunikasi. Berdasarkan pada teori EQ maka keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh tinggi-rendahnya IQ seseorang yang bersangkutan, tetapi ditentukan oleh bagaimana seseorang tersebut mengelola hubungan antarpersonal secara lebih bermakna. EQ telah memberikan suatu rasa empatik, cinta, ketulusan, kejujuran, kehangatan, motivasi dan kemampuan merespon kegembiraan atau kesedihan secara tepat. EQ juga memberikan kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri dan juga perasaan milik orang lain.
Berbeda dengan IQ yang relatif tak berubah pada diri manusia, EQ bisa mengalami perubahan. EQ bisa meningkat dan menurun. EQ bisa dipelajari untuk terus ditingkatkan dan disempurnakan. Bahkan EQ menjadi landasan bagi penggunakan IQ secara lebih efektif. Kecerdasan emosi-spiritual (ESQ) merupakan sinergi dari EQ dan SQ yang pertama kali digagas oleh Ginanjar (2001) sebagai penggabungan antara kepentingan dunia (EQ) dan kepentingan spiritual (SQ). Kecerdasan emosi-spiritual merupakan dasar mengenali dan memahami bagian terdalam dari suara hati kita sendiri dan juga perasaan serta suara hati orang lain, di mana suara hati adalah dasar kecerdasan emosi-spiritual dalam membangun ketangguhan pribadi sekaligus membangun ketangguhan sosial. Kecerdasan emosi-spiritual juga merupakan kemampuan untuk merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya kepekaan emosi sebagai informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi untuk mencapai sinergi, yakni saling menjalin kerjasama antara seseorang atau kelompok orang dengan orang lain atau kelompok lain dan saling menghargai berbagai perbedaan, yang bersumber dari suara hati manusia sebagai dasar mengenali dan memahami bagian terdalam dari suara hati kita sendiri, juga perasaan serta suara hati orang lain.