PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA TANAH AIR

Sebanyak lima mahasiswa prodi Pendidikan Akuntansi UNESA mengikuti program Kredit Transfer Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (KT-LPTK) yang dulunya bernama Pertukaran Mahasiswa Tanah Air (PERMATA). Program ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bekerjasama dengan sebelas perguruan tinggi eks-IKIP di Indonesia. Tujuan program ini adalah menjalani proses perkuliahan di perguruan tinggi lain sekaligus mempelajari budaya dan adat istiadat lingkungan perguruan tinggi tujuan serta teman-teman sesama peserta program dari seluruh Indonesia untuk mengembangkan rasa nasionalisme.
Narasumber kami kali ini adalah Aprilyana Eka Safitri dan Meica Fatikha Choirunnisak dari PAK 16A yang telah menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) selama satu semester dimulai dari Februari sampai Juli 2018.
Baik Aprilya maupun Meica menyatakan, secara keseluruhan proses perkuliahan antara UNESA dan UNY/UPI tidak jauh berbeda. Teman-teman dari perguruan tinggi tujuan bersikap terbuka sehingga tidak ada kesulitan khusus dalam beradaptasi maupun bersosialisasi. Kaprodi dari UNY dan UPI juga sangat membantu dalam proses penyesuaian mata kuliah.
Pengalaman penting yang didapatkan selain belajar akademik juga tentang mengenal budaya Jawa dan Sunda melalui ekskursi budaya dengan mengunjungi beberapa lokasi. Mahasiswa sesama peserta program KT-LPTK berasal dari seluruh Indonesia dengan bermacam etnis dan agama sehingga tujuan awal program untuk saling mengenal dapat terlaksana dengan baik. Para peserta program juga dapat menjalin hubungan pertemanan yang baik sehingga memperluas jaringan sosial.
Aprilya menganggap masyarakat Yogyakarta mempunyai kultur kesopanan yang sangat tinggi, apalagi saat berkomunikasi dengan masyarakat penggunaan bahasa Jawa Krama lebih sering diterapkan. Mahasiswa juga diikutsertakan dalam acara Global Culture Festival ke-10 UNY. Kendala penggunaan bahasa juga dialami Meica, dimana bahasa Sunda lebih sering digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Saat pelepasan mahasiswa KT-LPTK di UPI, para mahasiswa membuat acara dengan menampilkan seni tradisional daerah asal.
Aprilya dan Meica merasa bersyukur dapat mengikuti program KT-LPTK selama satu semester karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dengannya. Walaupun menemui beberapa kesulitan seperti dalam hal penyesuaian mata kuliah tetapi semua itu tidak sebanding dengan pengalaman berharga yang didapatkan.
Bagi mahasiswa lain, sangat dianjurkan mengikuti program seperti ini karena manfaat yang didapat sangat banyak belum lagi pengalaman-pengalaman luar biasa jika kita bisa saling berbagi dan mengenal budaya nusantara demi meningkatkan rasa cinta terhadap Indonesia. Apakah kalian tertarik mengikuti KT-LPTK tahun depan?