Stimulus Fiskal dan Moneter Diperkuat untuk Hadapi Perlambatan Ekonomi Nasional
Pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat stimulus fiskal dan moneter untuk menghadapi perlambatan ekonomi nasional. Kebijakan ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tengah tantangan global dan domestik. Stimulus fiskal dan moneter diperkuat untuk hadapi perlambatan ekonomi nasional menjadi fokus penting bagi mahasiswa program studi Pendidikan Akuntansi dalam memahami dinamika ekonomi dan kebijakan publik.
Penguatan Stimulus Fiskal dan Moneter untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi
Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,50 persen pada Mei 2025 untuk mendorong likuiditas dan kredit perbankan. Sementara itu, pemerintah menyiapkan berbagai program stimulus fiskal, seperti bansos PKH, kartu sembako, dan insentif perpajakan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional dan menjaga stabilitas keuangan.
Implikasi bagi Pendidikan Akuntansi
Mahasiswa Pendidikan Akuntansi perlu memahami bagaimana stimulus fiskal dan moneter memengaruhi laporan keuangan dan pengelolaan risiko perusahaan. Kebijakan ini berdampak pada biaya modal, arus kas, dan nilai aset. Dengan memahami kebijakan tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan analisis yang akurat dan relevan dalam praktik akuntansi serta mendukung pengambilan keputusan yang tepat di dunia usaha.
Strategi Pembelajaran dan Pengembangan Kompetensi Mahasiswa
Program studi Pendidikan Akuntansi harus mengintegrasikan materi kebijakan fiskal dan moneter dalam kurikulum. Mahasiswa didorong untuk mengikuti perkembangan kebijakan ekonomi dan mempelajari dampaknya terhadap sektor riil dan keuangan. Pendekatan ini memperkuat kompetensi akademik sekaligus kesiapan menghadapi tantangan profesi akuntansi di masa depan